Kehidupan Online dan Offline yang Berbeda

Gambar: unsplash.com/Surface

Kemajuan teknologi saat ini melahirkan berbagai macam hal bermula dari mesin uap, produksi massa, perangkat komputer, hingga zaman internet saat ini. Perkembangan ini membuat media sosial muncul yang melahirkan kehidupan baru bagi manusia yaitu dunia online atau dalam jaringan. 

Manusia "dipaksa" untuk bisa beradaptasi dengan dunia online ini, dan manusia termasuk salah satu makhluk hidup yang cepat untuk beradaptasi sehingga secara tidak langsung mereka menganggap dunia online ini sudah menjadi bagian dari mereka.

Namun, kita sadar bahwa kehidupan kita di dunia online tidak sama dengan kehidupan kita ketika offline atau luar jaringan. Ada yang eksis ketika bersama temannya di luar tapi jarang muncul di media sosial begitupun sebaliknya Mengapa bisa begitu?.

Efek Disinhibisi Daring (Online Disinhibition Effect)

Mengutip dari Psychology Corner, John Suler (psikolog klinis dan penemu efek disinhibisi online) mengartikan efek ini sebagai perilaku dalam kehidupan kita yang secara signifikan berbeda antara kehidupan online dan offline. Dengan kata lain, segala perilaku kita berbeda tergantung tempat dan situasi dari kehidupan kita. 

Sebagai contoh masyarakat Indonesia dikenal ramah, baik, dan sopan oleh turis asing tapi menurut survei kesopanan digital Digital Civility Index (DCI) 2021 yang dirilis oleh Microsoft menemukan bahwa Indonesia adalah negara dengan netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. 

Ini termasuk contoh nyata dimana kehidupan online dan offline yang berbeda satu sama lain bahkan bisa jauh banget perbedaannya.

Faktor yang Memengaruhinya

Mengutip dari Kumparan, terdapat 6 faktor dalam terjadinya fenomena disinhibisi online, yaitu:

1. Dissociative anonymity (You don’t know me)

Kita semua punya identitas yang harus kita jaga kerahasiaannya dan kehidupan online akan membuat mereka nyaman dengan identitas palsu mereka seperti akun fake.

Dengan hal itu, mereka dapat memanipulasi dan menyembunyikan identitas asli mereka sekaligus membuat mereka aman dari identitas asli mereka yang terungkap. 

2. Invisibility (You can’t see me)

Kita benci kalau setiap aktivitas kita dilihat sama orang lain seperti kegiatan penguntit kan?

Sama halnya dengan faktor ini, dengan kehidupan online kita menjadi bebas search apa aja yang kita mau tanpa dilihat langsung oleh orang lain dan nyaman untuk mencari hal yang memuaskan ego sekalipun.

3. Asynchronicity (See you later)

Percakapan yang tidak sinkron sering terjadi saat berkomunikasi secara online. 

Hal ini dapat mengubah cara orang berpikir karena terdapat jarak antar waktu yang bisa dibalas beberapa jam atau bahkan berhari-hari dan tentunya ini akan memengaruhi komunikasi kita dengan orang tersebut. 

4. Solipsistic introjection (It’s all in my head)

Ketika berkomunikasi dengan orang lain secara online kita sering menggunakan pesan atau teks yang secara langsung berbeda dengan percakapan saat offline yang bisa langsung melihat penampilan dan mendengar suara orang lain untuk berkomunikasi.

Inilah yang membuat manusia merasa tertantang untuk berimajinasi seperti apa penampilan dan suara dari lawan bicara kita. Sekaligus inilah yang membuat kehidupan online menjadi lebih menyenangkan.

5. Dissociative imagination (It’s just a game)

Secara sadar maupun tidak sadar, seseorang cenderung akan mengimajinasikan dirinya di dalam kehidupan online yang tentunya berbeda dengan dirinya di kehidupan offline. Hal ini membuat segala nilai dan norma di dunia nyata tidak berpengaruh pada kehidupan di dunia online.

6. Minimization of status and authority (Your rules don’t apply here)

Status dan kekuasaan tidak dapat kita lihat di kehidupan online sehingga ini menjadi hal bagi semua orang untuk dapat mengekspresikan diri dan berinovasi.

Kehidupan online dan offline memiliki kehidupan yang jelas berbeda dan kita sebagai individu dapat memilih kehidupan apa yang ingin kita jalani sebagai kehidupan secondary kita.

Sumber:
• Psychology Corner. (2020, February 25). The Online Disinhibition Effect: Factors of Healthy and Toxic Internet Disclosures. https://psychologycorner.com/the-online-disinhibition-effect-factors-of-healthy-and-toxic-internet-disclosures/


 Counselling Tutor. The Disinhibition Effect in Online Therapyhttps://counsellingtutor.com/disinhibition-effect-in-online-therapy/

 Florine Averina. (2021, November 23). Online Disinhibition Effect: Diri 'Online' Kita yang Bertolak Belakang. Kumparan. https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/florine-averina/online-disinhibition-effect-diri-online-kita-yang-bertolak-belakang-1wy9cPtFVov

Comments

Popular Posts