Psikologi dan Seni yang Indah

Gambar: pixabay.com/Geralt

Apa yang ada di pikiran kalian begitu mendengar kata seni? Tentunya setiap individu memiliki persepsi makna yang berbeda-beda dan berkat seni yang bersifat subjektif inilah yang membuat manusia bebas untuk memukau hati orang-orang lewat sebuah karya.

Seni yang dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk mengekspresikan emosi dan perasaan kita kini ikut berperan dalam kemajuan ilmu psikologi.

Psikologi sebagai seni hadir untuk membantu manusia dalam memecahkan permasalahan yang ada, apa kaitannya antara seni dan psikologi?

Perspektif Seni dalam Psikologi 

Perspektif ini tidak hanya mempelajari hubungan antara psikologi dan seni, tapi juga tentang psikobiologi, psikologi evolusioner, psikopatologi, dan psikologi kepribadian

Ilmu filsafat juga ikut berperan dalam perspektif ini. Pemahaman terhadap fenomena estetika dan sejarah seni menjadi awal dari perspektif ini lahir karena karya yang telah diciptakan dapat dianalisis dari kacamata psikologi.

Manfaat Seni dalam Psikologi

Mengutip dari Exploring Yourmind, para ahli menemukan bahwa melukis mampu melepaskan dopamin, (hormon bahagia), dan hormon endorfin.

Di sisi lain, ketika seseorang menyelesaikan sebuah karya, akan memberikan perasaan bahagia yang mirip dengan perasaan ketika memiliki anak (pelepasan hormon oksitosin).

Manfaat utamanya adalah dapat mengembangkan keterampilan sosial, pelepasan stress dan kecemasan, kesejahteraan psikologis, mengontrol perilaku, dan menggali alam bawah sadar (subconsious mind) sebagai metode pengetahuan. 

Terapi Seni (Art Therapy)

Bidang studi yang menggabungkan unsur psikologi dengan seni dan perawatan kesehatan mental dalam komunikasi verbal ataupun nonverval disebut sebagai terapi seni (art therapy). 

Terapi ini muncul ketika program rehabilitasi lahir pada beberapa dekade yang lalu dengan menggunakan teknik seperti menulis, musik, melukis, dan lain-lain.

Terapi seni telah menjadi populer hingga saat ini karena didasarkan pada pengembangan kreativitas, pengurangan stres dan kecemasan berkat pembelajaran teknik seni.

Miskonsepsi dalam Terapi Seni (Art Therapy)

Terdapat beberapa miskonsepsi yang harus kita ketahui, yaitu:

1. Harus Menjadi Seorang Seniman

Kalian tidak perlu memiliki keterampilan atau bakat khusus layaknya seorang seniman untuk berpartisipasi dalam terapi seni dan orang-orang dari segala macam usia dapat memperoleh manfaatnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seni dapat berperan dalam meningkatkan kesehatan mental.

2. Sama dengan Kelas Seni

Kelas seni lebih berfokus pada teknik pengajaran atau menciptakan sebuah karya tertentu, sedangkan terapi seni berfokus pada membiarkan klien fokus pada pengalaman mental mereka.

Manusia mampu memusatkan perhatian pada persepsi, imajinasi, dan perasaannya sendiri selama mereka berkarya. Klien didorong untuk menciptakan karya yang lebih mengekspresikan mental mereka daripada membuat sesuatu yang berada di luar zona nyaman mereka. 

3. Terapi Seni Hanya Dapat Dilakukan di Rumah Sakit

Selain rumah sakit, terapi ini dapat dilakukan di kantor, sekolah, dan organisasi masyarakat yang menjadi tempat yang biasanya digunakan untuk layanan terapi seni. Selain itu, terapi seni tersedia di tempat lain seperti kampus, komunitas, dan lain-lain. 

4. Terapi Seni Hadir untuk Semua Orang

Terapi ini belum terbukti efektif untuk semua jenis kondisi mental seseorang dan perlu penelitian lebih lanjut untuk menemukan berbagai teknik terapi seni yang mutakhir.

Meskipun dalam terapi seni tingkat kreativitas yang tinggi tidak diperlukan tapi banyak orang yang percaya bahwa ketika mereka tidak kreatif mereka akan menolak atau skeptis terhadap proses tersebut.

Psikologi dan seni dapat menjadi alat untuk membantu manusia dalam terapi seni dan karya yang dihasilkan akan mendapat kepuasan tersendiri bagi individu serta lebih sehat secara mental. 

Sumber:
Exploring Yourmind. (2020, September 15). The Psychology of Art: Concepts and Characteristicshttps://exploringyourmind.com/the-psychology-of-art-concepts-and-characteristics/

Counselling Directory. (2022, February 17). Art therapy and art as therapy - what's the difference?. https://www.counselling-directory.org.uk/memberarticles/art-therapy-and-art-as-therapy-whats-the-difference

Kendra Cherry, MSEd. (2022, November 8). What Is Art Therapy. Verywellmind. https://www.verywellmind.com/what-is-art-therapy-2795755

Comments

Aryo W said…
Bagaimana dengan sebaliknya; bahwa seni bisa merubah kepribadian seseorang menjadi lebih seperti oran yang sakit jiwa? Seperti pematung yang mencintai patungnya sendiri, atau aktor yang sangat menjiwai perannya.
fia_stayc said…
Semua ilmu termasuk seni itu standar (tidak ada yang mendominasi), gangguan mental untuk kasus ini dilihat dari seberapa besar kita suka dengan seni dan menjadi ketagihan. Jadi bukan karena seni yang membuat kita kepribadian kita terganggu, tapi kepribadian (pemikiran) kita terhadap seni lah yang membuat kepribadian kita terganggu.
fia_stayc said…
Dan untuk kenapa seseorang yang dalam tanda kutip “kecanduan“ dikarenakan kadar hormon yang bernama dopamin ini sangat tinggi, dopamin inilah yang membuat kita susah untuk terlepas dari hal yang kita suka dan susah untuk berpikir secara logis (Teori Cinta dari Helen Fisher).

Popular Posts